Epistemologi

Teori Kebenaran Korespondesi

Adalah  kebenaran akan terjadi apabila subjek  yakin bahwa objek sesuai dengan kenyataannya

VIVA.co.id – Persija Jakarta tumbang di markas Bali United. Serdadu Tridatu sukses menambah tiga poin saat menjamu Macan Kemayoran di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, dalam lanjutan Liga 1, Jumat, 15 September 2017.
Sylvano Comvalius membawa unggul tim tuan rumah saat laga baru berjalan 10 menti. Irfan Bachdim menggandakan keunggulan pada menit 18. Persija memperkecil ketinggalan pada menit 62 melalui Bambang Pamungkas. 

Hasil ini tak mengubah posisi kedua tim di papan klasemen sementara Liga 1. Bali United tetap di posisi 2, namun memperkecil selisih poin dari Bhayangkara yang memuncaki klasemen.
Bhayangkara FC di puncak klasemen dengan mengemas 49 poin, ditempel Bali United dengan 48 poin. 
Persija tetap berada di posisi 6 dengan 39 poin.
Dalam pertandingan yang disiarkan tvOne itu, Bali United mengganas di babak pertama. Laga baru berjalan 10 menit, Sylvano Comvalius sudah membobol gawang Persija. Penyerang dengan nomor punggung 99 itu sukses mengoyak gawang Andritany berkat umpan akurat Irfan Bachdim.
Bachdim menambah derita Persija dengan menggandakan keunggulan Bali United pada menit 18. Kali ini giliran Sylvano Comvalius yang memberinya umpan akurat.
Dibabak kedua Bambang Pamungkas memperkecil ketinggalan lewat sundulannya setelah menerima umpan dari Rohit Can.

http://www.viva.co.id/bola/liga-indonesia/957257-bali-united-pecundangi-persija-jakarta

Saya melihat/menonton pertandingan antara Bali United vs Persija Jakarta pada jumat  15 september 2017 pukul 18.30 wib yang berakhir dengan skor 2-1 untuk kemenangan Bali United atas Persija Jakarta.. gol pertama dicetak oleh Sylvano Comvalius yang menyambar bola umpan Irfan Bachdim yang melebar pada menit ke 10.
Gol kedua dicetak oleh Irfan Bachdim lewat sundulannya dimenit ke 18.
Dibabak kedua Persija berhasil memperkecil ketinggalan melalui gol sundulan Bambang Pamungkas dimenit 62. Skor tetap tidak berubah sampai akhir pertandingan dan membuat Bali United mendapatkan 3 point hasil kemenangan




Teori Kebenaran Konsensus

Kebenaran konsensus akan terjadi apabila ada kesepakatan yang disertai  alasan tertentu .

Pluto Tidak Layak Dikatakan Sebagai Planet

Kenapa Pluto tidak layak dikatakan Planet?
Jawabannya karena planet Pluto ukurannya terlalu kecil sehingga tidak layak disebut sebagai planet, selain itu orbit yang dimiliki oleh pluto tidak sesuai/berbahaya untuk planet lain (dapat bertabrakan dengan planet lain), tetapi pluto juga tidak dapat memancarkan sinar sendiri jadi pluto juga bukan bintang, maka dari itu pluto disebut benda langit.
Pluto telah mendapat nama baru sesuai dengan statusnya saat ini sebagai planet kerdil. Sejak sepekan lalu Pusat Planet Minor (MPC), organisasi resmi yang bertanggung jawab untuk pegumpulan data tentang asteroid dan komet di dalam sistem tata surya, ternyata telah mendaftarkan bekas planet kesembilan itu sebagai asteroid ke-134340.
Masuknya Pluto dalam katalog asteroid itu menegaskan keputusan Uni Astronomi Dunia tiga minggu lalu untuk menyingkirkan Pluto dari keluarga planet tata surya. Sejak itu Pluto hanya disetarakan dengan obyek-obyek kecil tata surya dengan garis orbit yang sudah pasti.
Bulan-bulan Pluto, Charon, Nix dan Hydra dianggap sebagai bagian dari sistem yang sama dan tidak didaftarkan dengan nomor yang berbeda. "Mereka hanya akan disebut 134340 I, II, dan III," kata Brian Marsden, Direktur Emeritus MPC.
Mulai Kamis (24/8/2006) jangan pernah terpeleset mengucapkan Planet Pluto. Karena sejak hari itu, Pluto sudah tidak lagi berhak menyandang predikat sebagai planet.
Sidang Umum Himpunan Astronomi Internasional (International Astronomical Union/IAU) Ke-26 di Praha, Republik Ceko, yang berakhir 25 Agustus, menghasilkan keputusan bersejarah dalam dunia astronomi dengan mengeluarkan Pluto dari daftar planet-planet di Tata Surya kita. Mulai sekarang, anggota Tata Surya hanya terdiri dari delapan planet, yakni Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus.
Keputusan mengeluarkan Pluto yang sudah menjadi anggota Keluarga Planet Tata Surya selama 76 tahun merupakan konsekuensi ditetapkannya definisi baru tentang planet. Resolusi 5A Sidang Umum IAU Ke-26 berisi definisi baru itu.
Dalam resolusi tersebut dinyatakan, sebuah benda langit bisa disebut planet apabila memenuhi tiga syarat, yakni mengorbit Matahari, berukuran cukup besar sehingga mampu mempertahankan bentuk bulat, dan memiliki jalur orbit yang jelas dan "bersih" (tidak ada benda langit lain di orbit tersebut).
Definisi tersebut adalah definisi universal pertama tentang planet sejak istilah planet dikenal di kalangan astronom, bahkan sebelum era Nicolaus Copernicus yang tahun 1543 membuktikan Bumi adalah salah satu planet yang berputar mengelilingi Matahari.

Dengan definisi baru tersebut, Pluto tidak berhak menyandang nama planet karena tidak memenuhi syarat yang ketiga. Orbit Pluto memotong orbit planet Neptunus sehingga dalam perjalanannya mengelilingi Matahari, Pluto kadang berada lebih dekat dengan Matahari dibandingkan Neptunus.
Planet kerdil
Pluto kemudian masuk dalam keluarga baru yang disebut planet kerdil atau planet katai (dwarf planets). Keluarga ini beranggotakan Pluto dan benda-benda langit lain di Tata Surya yang mirip dengan Pluto, termasuk di dalamnya asteroid terbesar Ceres, satelit Pluto, Charon, dan beberapa benda langit lain yang baru saja ditemukan.
Menurut Direktur Observatorium Bosscha di Lembang, Jawa Barat, Dr Taufiq Hidayat, keputusan Sidang Umum IAU tersebut adalah puncak perdebatan ilmiah dalam astronomi yang sudah berlangsung sejak awal 1990-an lalu. Perdebatan tersebut dipicu berbagai penemuan baru yang menimbulkan keraguan apakah Pluto masih layak disebut planet atau tidak.
"Karakteristik Pluto memang berbeda dengan planet-planet lainnya. Bahkan komposisi kimianya lebih menyerupai komet daripada planet," ungkap astronom yang mendalami bidang ilmu-ilmu planet ini.
Selain itu, perkembangan teknologi teleskop juga membawa pada penemuan berbagai benda langit yang masuk dalam kelompok Obyek Sabuk Kuiper (Kuiper Belt Object/KBO). Sabuk Kuiper sendiri adalah sebutan untuk wilayah di luar orbit planet Neptunus hingga jarak 50 Satuan Astronomi (SA/1 Satuan Astronomi = jarak rata-rata Matahari-Bumi, yakni sekitar 149,6 juta kilometer) dari Matahari.
Hasil sidang Umum Himpunan Astronomi Internasional ke-26 di Praha, Ceko, 25 Agustus lalu, mencabut status Pluto sebagai planet ke sembilan dalam tata surya kita. Dalam sidang tersebut Pluto dinyatakan tidak masuk dalam kategori planet namun hanya sebagai benda angkasa biasa. Definisi baru planet dalam sidang tersebut berubah, yaitu memiliki orbit yang mengelilingi Matahari, memiliki massa yang cukup besar dengan diameter lebih dari 800 kilometer. Ciri terakhir adalah memiliki orbit yang tidak memotong orbit planet lainnya. Sedangkan dalam kenyataannya, Pluto sudah dikenal sebagai planet ke sembilan dalam sistem tata surya kita. Namun, dalam pengamatannya, ternyata Pluto memiliki orbit yang sering kali menyimpang atau bersinggungan dengan orbit planet lainnya. Berdasar definisi terbaru itulah, akhirnya Pluto ditetapkan sebagai benda angkasa biasa dan planet kerdil.
Beberapa KBO sangat menarik perhatian karena berukuran hampir sama atau bahkan lebih besar daripada Pluto (diameter 2.300 km) dan ada yang memiliki satelit atau "bulan". Beberapa obyek tersebut, antara lain, Quaoar (diameter 1.000 km-1.300 km), Sedna (1.180 km- 1.800 km), dan yang paling terkenal adalah obyek bernama 2003 UB313 yang ditemukan Michael Brown dari California Institute of Technology (Caltech) pada 2003 lalu. Obyek yang dijuluki Xena tersebut memiliki diameter 2.400 km, yang berarti lebih besar daripada Pluto. Xena sempat dihebohkan sebagai planet ke-10 Tata Surya.
Tidak hanya kehilangan statusnya sebagai planet kesembilan di tata Surya, nama Pluto kini tinggal kenangan. Sejak 7 September, Minor Planet Center (MPC), organisasi yang bertanggung jawab mengumpulkan data mengenai asteroid dan komet di Tata Surya memberinya identitas baru sebagai asteroid dengan nomor 134340. "Satelit-satelit yang mengelilingi Pluto, yakni Charon, Nix, dan Hydra dianggap satu sistem sehingga tidak diberikan penomoran berbeda," kata direktur emeritius MPC, Brian Marsden. Namun, ketiganya akan disebut 134340 I, II, dan III. Penamaan ini merupakan tindak lanjut keputusan Himpunan Astronomi Internasional (IAU) yang mengeluarkan Pluto dari kategori planet yang ditetapkan dalam Sidang Umum IAU. Meski belum didefiniskan secara formal. Pluto dikelompokkan ke dalam kategori planet kerdil bersama asteroid terbesar Ceres, dan Xena yang dipopulerkan sebagai planet kesepuluh saat penemuannya. Dengan masuknya Pluto sebagai asteroid, sejauh ini ada 136.563 objek asteroid yang telah dicatat MPC. Sebanyak 2.224 objek baru dicatat selama seminggu terakhir dan Pluto merupakan yang pertama. Xena yang saat penemuannya diberi identitas 2003 UB313 kini juga dikategorikan asteroid dengan nomor 136199.
 Sedangkan, dua objek baru yang ditemukan di daerah Kuiper Belt yakni 2003 EL61 dan 2003 FY9 disebut asteroid dengan nomor 136108 dan 136472. Meski demikian, MPC juga mengeluarkan pengumuman terpisah yang menyatakan bahwa pemberian identitas nomor asteroid kepada Pluto dan objek-objek besar dekat orbit Neptunus tidak menghalangi kemungkinan pengelompokan ganda. Misalnya, saat IAU menentukan katalog spesifik astronomi mengenai planet kerdil, objek-objek tersebut mungkin masuk dalam kelompok ini. mungkin masuk dalam kelompok ini.
Sejak saat itu, lanjut Taufiq, terjadi perbedaan pendapat di kalangan astronom. "Pilihannya adalah memasukkan Ceres, Charon, dan 2003 UB313 ke dalam keluarga planet sehingga jumlah planet menjadi 12, atau mengeluarkan Pluto. Akhirnya pilihan kedua yang disepakati," tutur mantan Ketua Jurusan Astronomi Institut Teknologi Bandung ini.
Kesepakatan itu sendiri bukannya datang dengan mudah. Taufiq mengatakan, pengambilan keputusan itu bahkan dicapai dengan cara pemungutan suara di antara para anggota IAU yang hadir setelah didahului perdebatan yang sangat sengit. Empat astronom senior dari Indonesia turut serta dalam Sidang Umum IAU tersebut, yakni Jorga Ibrahim, Iratius Radiman, Suryadi Siregar, dan Ny Permana Permadi. Mereka belum bisa diwawancarai karena belum kembali di Tanah Air sampai tulisan ini dibuat.
Kontroversi
Keputusan melepas status planet dari Pluto tentu saja sangat mengejutkan semua pihak. "Kata 'planet' dan gagasan tentang planet bisa menjadi sangat emosional karena itu adalah hal yang kita pelajari sejak kita masih kanak-kanak," ungkap Richard Binzel, profesor ilmu-ilmu planet dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) yang menentang "pemecatan" Pluto, seperti dikutip Associated Press.

Orang paling terpukul dengan keputusan ini adalah Patricia Tombaugh (93), janda Clyde Tombaugh, ilmuwan yang menemukan Pluto pada 18 Februari 1930. "Ini sangat mengecewakan dan sangat membingungkan. Saya tidak tahu bagaimana harus menghadapi ini, rasanya seperti kehilangan pekerjaan," tuturnya kepada AP dari rumahnya di Las Cruces, New Mexico.
Beberapa pihak memprediksi debat mengenai status Pluto tidak akan berakhir di sini. Alan Stern, ketua misi pesawat ruang angkasa NASA, New Horizon, yang diluncurkan ke Pluto, Januari lalu, mengaku merasa "malu" terhadap keputusan itu. Meski demikian, misi senilai 700 juta dollar AS dan baru akan tiba di Pluto pada 2015 itu tetap akan dilanjutkan. "Ini benar-benar sebuah definisi yang ceroboh. It's bad science. Ini belum selesai," ujar Stern.
Wajar
Wajar saja pencopotan gelar planet dari Pluto memicu reaksi yang emosional. Pluto selama ini memiliki tempat tersendiri di hati para astronom, baik yang profesional maupun amatir. Pluto sering dianggap "Si Bungsu dari Tata Surya" karena jaraknya yang terjauh dari Matahari dan ditemukan paling akhir dibandingkan delapan planet lainnya.
Orbit Pluto yang sangat lonjong dan tidak sejajar dengan bidang lintasan planet lainnya juga membuat planet ini unik. Pluto juga sempat dianggap sebagai jawaban dari misteri Planet X, sebuah planet hipotetis yang diduga ada di luar orbit Neptunus dan menyebabkan gangguan pada orbit planet Uranus dan Neptunus. Meski ukuran Pluto kemudian terbukti terlalu kecil untuk menjadi Planet X, dugaan tersebut menjadi bagian dari legenda Pluto.
Selain itu, keputusan pencabutan Pluto dari keluarga planet Tata Surya ini juga membawa konsekuensi perubahan seluruh buku pelajaran, kamus astronomi, buku pintar, dan ensiklopedia di dunia yang sudah terlanjur mencantumkan Pluto sebagai planet ke-9. Bayangkan kerepotan yang akan terjadi.
Namun, Taufiq Hidayat mengatakan, inilah konsekuensi dari perkembangan ilmu pengetahuan. Perubahan definisi planet dan keluarnya Pluto dari keluarga planet hanyalah sebuah pengingat bagi kita semua bahwa ilmu pengetahuan yang kita pahami dan kita yakini kebenarannya sekarang ini bukanlah sebuah kesimpulan final. Masih banyak kebenaran yang belum kita temukan.

Alasan saya memilih berita ini dikarenakan bahwa berita ini tentang Pluto yang sudah tidak lagi dianggap sebagai planet di tata surya,  yang sudah pasti dinyatakan dan disetujui oleh NASA dan Himpunan Astronot Internasional dan masyarakat luas.







Teori Kebenaran Pragmatik

     Kebenaran akan terjadi apabila sesuatu memiliki kegunaannya.

PLN Serap 291,4 MW Listrik dari Energi Terbarukan
Liputan6.com, Jakarta PT PLN (Persero) membeli tenaga listrik sebesar 291,4 Mega Watt (MW) dari 11 pembangkit yang menggunakan Energi Baru Terbarukan (EBT). Hal ini ditandai dengan perjanjian jual beli listrik (Power Puchase Agreement/PPA).

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mengatakan, pembelian listrik yang berasal dari EBT tersebut, akan mendorong pencapaian target porsi EBT dalam bauran energi sebesar 23 persen pada 2025.

‎"Ini mendukung komitmen pemerintah melalui KEN, kita berusaha mencapai target bauran energi 2025,"  kata Jonan saat menyaksikan PPA, di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (8/9/2017).

Jonan mengatakan, pembelian listrik dari EBT juga upaya mendukung pengurangan polusi udara. Hal tersebut telah menjadi komitmen Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam forum perubahan iklim dunia (COP21) di Paris, Prancis. "Renewable energy (EBT) itu pak Presiden menandatangani komitmen mengurangi polusi," dia menuturkan.

Jonan pun mengapresiasi PLN dan 11 pengembang listrik swasta (Independent Power Producer/IPP) yang menandatangani PPA karena memberikan tarif listrik yang kompetitif sehingga bisa terjangkau masyarakat.

"11 proyek pembangkit EBT ini memiliki kisaran harga jual antara US$ 6,52 per kWh - US$ 8,60 per kWh, ada yang lebih rendah maupun sama dari nilai BPP, ini merupakan dukungan pemerintah untuk pengembangan listrik EBT" papar Jonan.

Sesuai Aturan

Hal ini sejalan dengan Perturan Menteri ESDM Nomor 50 Tahun 2017 yang mengatur perubahan formula harga pembelian tenaga listrik dari PLTS Fotovoltaik, PLTB, PLTBm dan PLTBg.

Biaya Pokok Produksi (BPP) Pembangkitan di sistem ketenagalistrikan setempat sama atau di bawah rata-rata BPP Pembangkitan nasional. Harga patokan pembelian tenaga listrik semula sebesar sama dengan BPP Pembangkitan di sistem ketenagalistrikan setempat, menjadi ditetapkan berdasarkan kesepakatan para pihak.

Sebelas proyek pembangkit tenaga listrik yang ditandatangani sebagai berikut:

1. Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hydro (PLTM) Aek Sibundong berkapasitas 8 MW di Sumatera Utara
2. PLTM Aek Situmandi berkapaitas 7 MW di Sumatera Utara
3. PLTM Aek Sigeaon berkpasitas 3 MW di Sumatera Utara
4. PLTM Sisira berkapasitas 9,8 MW di Sumatera Utara
5. PLTM Batang Toru 4 berkapasita 10 MW di Sumatera Utara
6. PLTM Bayang Nyalo berkapasitas 6 MW di Sumatera Barat
7. PLTM Batu Brak berkapasita 7,7 MW di Lampung
8. PLTM Kunci Putih berkapasitas 0,9 MW di Jawa Tengah
9. PLTA Air Putih berkapasitas 21 MW di Bengkulu
10. PLTA Pakkat berkapasitas 18 MW di Sumatera Utara
11. PLTA Buttu Batu berkapasitas 200 MW di Sulawesi Selatan

Sumber: http://m.liputan6.com/bisnis/read/3087065/pln-serap-2914-mw-listrik-dari-energi-terbarukan



Alasan kami memilih berita ini, karena berita ini mengandung nilai dan unsur-unsur Pragmatis. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa Pragmatis adalah suatu nilai yang memiliki manfaat, sehingga hubungannya dengan berita ini yaitu berita ini menyajikan fakta dan kebenaran yang bermanfaat bagi para pembacanya.




Teori Kebenaran Konsensus

Kebenaran konsensus akan terjadi apabila ada kesepakatan yang disertai  alasan tertentu.

Penghapusan Konten Radikal Disepakati, Pemerintah Buka Blokir Telegram


Kamis, 10 Agustus 2017 - 19:47 WIB

JAKARTA - Blokir terhadap aplikasi pesan instan Telegram secara resmi telah dibuka oleh pemerintah. Pengumuman pembukaan blokir aplikasi komunikasi berbasis web itu diumumkan melalui sebuah konferensi pers di Kantor Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Jakarta, Kamis (10/8/2017).

Kepada para jurnalis, Menkominfo Rudiantara mengatakan pembukaan blokir Telegram sebagai hasil kesepakatan kedua belah pihak, yakni menangkal konten berbau radikalisme dan terorisme.


"Hari ini Telegram untuk webnya dibuka kembali. Masyarakat sudah bisa menggunakannya kembali," kata Rudi. 
Rudi mengatakan, pemerintah telah bersepakat dengan Telegram untuk bersama-sama menghapus konten berbau radikalisme dan terorisme.

Kini, lanjut dia, dibutuhkan kecepatan dan kerja sama untuk membersihkan konten negatif. "Kita harus cepat membersihkan konten negatif.
Dari perkembangan yang ada, Telegram melakukan hal sangat baik," ucap Rudi.


Alasan kami memilih berita penghapusan konten radikal disepakati, pemerintah buka blokir Telegram karena jelas terdapat kesepakatan antara pemerintah dan Kominfo untuk menghapus konten radikal yang sempat di manfaatkan kaum Rebelion  untuk kejahatan.


TEORI KEBENARAN SEMANTIK

Ini Tips Menghindari Hoax dari Pimpinan Komisi I DPR






 

 

 

 

 

Penghapusan Konten Radikal Disepakati, Pemerintah Buka Blokir Telegram


Bagus Prihantoro Nugroho - detikNews

Ini Tips Menghindari Hoax dari Pimpinan Komisi I DPR
Jakarta - Berita palsu yang bermunculan tak jarang membuat masyarakat bingung membedakan dengan yang fakta. Wakil Ketua Komisi I Meutya Hafidz pernah menjadi korban fitnah berita hoax.

"Saya juga pernah jadi korban berita hoax dulu, sewaktu awal mau nyaleg tahun 2008. Ada yang mengaku sebagai suami saya seperti itulah, tapi saat itu tidak saya gubris karena tidak sampai memecah belah," ungkap Meutya saat berbincang dengan detikcom, Jumat malam (30/12/2016).
Ini Tips Menghindari Hoax dari Pimpinan Komisi I DPR Meutya Hafidz. Foto: detikINET/Achmad Rouzni Noor II

Maka itu dia tak ingin semakin banyak korban fitnah dari berita-berita hoax. Perlu ada regulasi yang tegas dari Kemkominfo, kata Meutya, agar penyebaran berita hoax bisa dikendalikan.

"Regulasi bukan bermaksud mengecilkan kebebasan berpendapat," ujar Meutya.

Meutya berpendapat, belum saatnya penegak hukum bertindak terhadap media penyebar berita palsu. Untuk saat ini, kata Meutya, cukup Kemkominfo yang melakukan penindakan dengan memblokir.

Lalu bagaimana cara membedakan berita yang hoax dengan yang fakta?

"Yang jelas, berita yang asli itu ada di situs berita terpercaya. Tapi sekarang kan situs berita juga banyak yang dipalsukan, namanya dimirip-miripkan. Tapi bisa dibedakan dengan cara melihat, apakah tulisan itu sebuah karya jurnalistik atau bukan," tutur dia.

Lebih lanjut dia menyinggung tentang UU Pers No 40/1999. Media terpercaya akan mengacu pada undang-undang tersebut, ujar Meutya.

"Apakah situsnya merupakan perusahaan pers atau bukan? Atau hanya dibuat oleh orang pribadi? Setelah itu dicari tahu apakah isinya meresahkan atau tidak? Kalau isinya meresahkan dan berbau SARA, sudah pasti (bukan media asli)," papar Meutya. (bag/tor)

Alasan:
Alasan berita tersebut termasuk dalam teori kebenaran semantic karena dalam berita tersebut terdapat keterangan bagaimana cara mengetahui dan menghindari situs hoax, yang berarti mengerti apa itu situs hoax, bagaimana cara menghindarinya. Sesuai dengan kebenaran semantik yang berarti mengerti dan memahami arti dari suatu kata.


Sumber: https://m.detik.com/news/berita/d-3384926/ini-tips-menghindari-hoax-dari-pimpinan-komisi-i-dpr

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Logika

Biografi John Locke

Aksiologi