Aksiologi

Nilai Kebaikan/ Nilai Moral
Adalah nilai yang bersumber pada unsur kehendak (karsa,will) manusia.
Kami mewawancarai tukang ojek yang setiap harinya mengantar penumpang, makanan & barang karena selain ia mencari nafkah juga menolong dan memudahkan kehidupan kita. Berikut adalah wawancara kami kepada seorang tukang ojek online yang bernama Bayu          :

Driver Ojek Online – Fedora
Fedora :      Mau Tanya dong mas,  udahjadi driver ojek online berapa lama ?
Driver :       Saya baru mba
Fedora :      Baru mas ?
Driver :       Sekitar 3 bulanan mba
Fedora :      Suka dukanya jadi driver ojek online itu apasih mas ?
Driver :       Ya sukanya yang anter orang dengan senang hati mba
Fedora :      Terus dukanya apa mas ?
Driver :       Dukanya yang anter panas panasan, nganter orang suka jauh jauh,
Fedora :      Ada pengalaman lain gituga mas kayak udah di order orang                     terus tiba tiba di cancel gitu.
Driver :       Ada sih, gimana ya, ada kan yang kita nganterin orang terus misalkan argo dia itu 9 ribu, tapi tuh dia gak ada duit pas , terus duitnya kurang Cuma ada 7 ribu, terus dianya malah minta kurang.
Fedora :      Terus mas gimana? Terima aja ?
Driver :       Ya terima aja mba, mau gimana lagi.
Fedora :      Oh gitu. Ya udah thankyou ya mas
Driver :       Sama-sama mba.  

Orang kedua yang kami wawancarai adalah mas Ferdy yang berprofesi sebagai satpam. Pekerjaan sebagai satuan pengamanan (satpam) tentunya mempunyai risiko terhadap dirinya sendiri dan tanggung jawab yang besar akan apa yang ia amankan. Berikut wawancara kami:
Mas Ferdy Security – Fedora



Fedora :      Mas sorry namanya siapa ?
Mas Ferdy :          Namanya Ferdy
Fedora :      Umurnya berapa mas ?
Mas Ferdy :          36 tahun
Fedora :      Mas udah jadi security disini berapa lama mas ?
Mas Ferdy :          Kurang lebih 1 tahun
Fedora :      Oh 1 tahunan ya mas
Mas Ferdy :          Iya
Fedora :      Suka dukanya jadi security ini apa mas ?
Mas Ferdy :          Suka dukanya itu kalo macet macetan kan itu panas panasan juga, terus juga kalo kerja gitu kan jauh dari rumah hahahaha ( ketawa ) yah itu sih sebenernya…
Fedora :      Terus kalo sukanya apa mas ?
Mas Ferdy :          Sukanya, yah… sukanya apa ya.. paling pas gajian doing sih hahahaha( ketawa ) soal nya kan bisa buat bantu nafkahin keluarga.
Fedora :      Oh pas gajian aja mas hahahaha ( ketawa ) terus kalo disini tuh pernah kemalingan gitu ga sih mas ?
Mas Ferdy :          Hmmm ( berfikir ) pernah sih ampir kemalingan, tapi waktu itu gak jadi sih soalnya keburu ketauan duluan sam akita.
Fedora :      Oh gak jadi gitu mas ?
Mas Ferdy :          Iya keburu ketauan soalnya.
Fedora :      Oh ya udah kalo gitu makasih yah mas buat waktunya.
Mas Ferdy :          Iya dek sama-sama ya.


Nilai Spiritual
Adalah nilai kerohanian yang tertinggi, bersifat mutlak dan abadi, serta bersumber pada kepercayaan dan keyakinan dalam diri manusia.
Nilai yang terdapat pada berita diatas adalah nilai spiritual. Karena terdapat konflik dengan penganut agama yang sama, konflik ini didasari ketidaksetujuan terhadap pemusnahan kaum minoritas, salah satunya agama Islam di Myanmar.

Bakar Foto Biksu Wirathu, Umat Budha Indonesia Sebut Myanmar Pengecut

Ditulis oleh  Ady Nugraha
Diterbitkan di hukum & politik
Ashin REUTERS
Wirathu Via Reuteurs
Sumber.com - Berbagai aksi solidaritas terkait kriris di Myanmar marak dilakukan di Indonesia. Tidak hanya dari kaum muslim, namun juga beberapa aksi dilakukan oleh penganut ajaran lain. Termasuk Budha. 
Salah satunya adalah aksi yang dilakukan di Vihara Borobudur, Jalan Imam Bonjol, Medan, beberapa waktu lalu. Dalam aksi tersebut, Ketua Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) Sumatera Utara, Edi Sujono Setiawan membakar foto Ashin Wirathu sebagai bentuk protes atas tindakan tak berperikemanusiaan di Rakhine.  
Edi menganggap bahwa Ashin Wirathu bukan seorang penganut Budha yang bisa dijadikan panutan. 
 "Ashin Wirathu bukan bagian dari umat Buddha. Dalam ajaran Buddha diajarkan untuk saling mengasihi," kata Edi.
Edi pun mengaku telah mendapatkan beberapa tuntutan dari banyak pihak yang mengutuk kekejaman yang dilakukan Wirathu. Beberapa kalangan menilai bahwa biksu tersebut cenderung radikal, dan ditenggarai sebagai dalang dibalik krisis di Rakhine. 
Wirathu adalah seorang anti-muslim. Pemimpin spiritual Tibet Dalai Lama menyebutkan bahwa dia, Wirathu, adalah sosok yang mengatasnamakan agama untuk memusnahkan kaum minoritas di Myanmar. 
 "Membunuh atas nama agama itu tidak masuk akal, sangat menyedihkan. Sekarang umat Buddha pun terlibat kekerasan di Myanmar,"kata Lama kepada Reuters beberapa waktu lalu.
Sementara itu, Ketua Yayasan Vihara Dharma Bhakti Banda Aceh, Yuswar, di Banda Aceh, mengatakan bahwa Myanmar tidak bisa disebut sebagai negara Buddhis. Apa yang dilakukan pemerintah Myanmar tidak sesuai dengan ajaran Budha.
 "Myanmar tidak layak disebut sebagai Negara Buddhis. Karena dalam agama Buddha dan agama apapun kekerasan tidak sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan, dan sangat bertentangan dengan ajaran Buddha,"katanya kepada merdeka.com.
 Lebih lanjut Yuswar mengutuk pihak militer Myanmar yang melakukan pembantaian terhadap ratusan muslim Rohingya. Bagi Yuswar, tindakan pembunuhan yang dilakukan junta militer tersebut adalah perbuatan yang dilakukan pengecut, karena terjadi pada wanita dan rakyat sipil lainnya yang tidak bersenjata.










Nilai Idealisme
Adalah doktrin yang mengajarkan bahwa hakekat dunia fisik hanya dapat dipahami dalam kebergantungannya pada jiwa (mind) dan spirit (roh). Di nilai idealisme ini kami mengambil berita tentang keberangkatan Munir ke Belanda menggunakan maskapai lokal dengan alasan idealisme dirinya sendiri, walaupun ia mempunyai pilihan dengan maskapai internasional. Karena ia mempunyai nilai atau ukuran dalam dirinya maka ia memutuskan pilihannya tanpa intervensi pihak lain.

Idealisme Munir dan Ironi Kematian di Pesawat Garuda..
Kamis, 7 September 2017 | 07:07 WIB
Kompas/Iwan Setiyawan
Tokoh pejuang hak asasi manusia, Munir Said Thalib
JAKARTA, KOMPAS.com - Bagi keluarga, sahabat, dan orang dekat, Munir Said Thalib memang dikenal sebagai sosok yang idealis. Idealisme ini tidak hanya diperlihatkan Munir saat memperjuangkan penegakan hak asasi manusia di Indonesia, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.
Hal ini juga diperlihatkan Munir saat memilih Garuda Indonesia sebagai wahana yang akan mengantarnya tiba di Belanda pada 7 September 2004, tepat 13 tahun silam.
Pendiri Imparsial dan aktivis Kontras itu sebenarnya bisa saja tidak menggunakan Garuda dalam perjalanan saat dia hendak melanjutkan studinya di Belanda. Namun, idealisme membuat Munir menggunakan Garuda Indonesia.
"Karena akan memberikan devisa bagi negara," demikian alasan Munir, seperti dikemukakan staf Imparsial bernama Irma, dalam film dokumenter Kiri Hijau Kanan Merah (2009) yang diproduksi WatchDoc.
Dalam film itu, mantan sekretaris Munir, Nunung, juga mengungkapkan bahwa Munir merasa lebih nyaman jika naik pesawat Garuda Indonesia, dan tidak sekedar alasan idealisme.
"Dia bilang lebih aman untuk menggunakan pesawat Garuda," ucap Nunung.
Namun, tidak ada yang menyangka bahwa idealisme Munir itu menjadi ironi di kemudian hari. Sebab, pria yang akrab disapa Cak Munir itu kemudian mengembuskan napas terakhirnya di atas penerbangan GA-974 dengan tujuan Jakarta-Amsterdam yang transit di Singapura.
Munir tutup usia sekitar pukul 08.10 waktu setempat, atau dua jam sebelum pesawat mendarat di Bandara Schipol, Amsterdam pada 7 September 2004 pagi.
Dia tewas setelah hasil autopsi memperlihatkan ada jejak-jejak senyawa arsenik di dalam tubuhnya. Munir dibunuh.

Kronologi kematian
Hingga saat ini, memang belum diketahui fakta yang mengungkap secara pasti mengenai kronologi kematian Cak Munir. Namun, sejumlah dugaan menyebut bahwa suami dari Suciwati itu diracun dalam perjalanan Jakarta-Singapura, atau bahkan saat berada di Singapura.
Dilansir dari dokumen Harian Kompas yang terbit pada 8 September 2004, indikasi bahwa Munir diracun memang terlihat setelah pesawat lepas landas meninggalkan Bandara Changi yang menjadi tempat transitnya.
Lini masa berikut ini dapat menjadi gambaran mengenai kronologi pembunuhan Munir pada Selasa kelabu itu.
Penerbangan GA-974 itu berangkat dari Jakarta pada Senin, 6 September 2004 malam, yaitu pukul 21.55 WIB. Pesawat tiba sekitar pukul 00.40 waktu setempat, kemudian melanjutkan perjalanan ke Amsterdam pukul 01.50.
Tiga jam setelah meninggalkan Bandara Changi, pramugara senior bernama Najib melapor kepada pilot Pantun Matondang bahwa Munir yang merupakan penumpang di kursi nomor 40G sakit setelah beberapa kali ke toilet.
Munir sempat mendapat pertolongan dari seorang dokter yang duduk di kursi nomor 1J. Pria kelahiran Batu, Malang, itu kemudian dipindahkan ke sebelah bangku dokter itu.
"Menurut laporan, keadaan Pak Munir masih tenang, tapi dua jam menjelang pesawat mendarat di Schiphol, Pak Munir meninggal," kata Kepala Komunikasi Perusahaan PT Garuda Indonesia saat itu, Pujobroto, seperti dilansir dari Harian Kompas.
Pesawat kemudian tiba di Bandara Schiphol sekitar pukul 10.00 waktu setempat. Karena ada peristiwa kematian penumpang, 10 petugas polisi militer kemudian masuk ke pesawat. Untuk sementara, penumpang tidak diperbolehkan turun.
Petugas keamanan pun sempat menanyai pilot Pantun Matondang, pramugari dan sejumlah penumpang yang duduk di dekat kursi Munir. Setelah 20 menit, penumpang pun dipersilakan turun.

Jenazah Munir kemudian juga dibawa turun, namun tetap dalam penanganan otoritas bandara. Petugas berwenang lalu melakukan autopsi. Hasil autopsi kelak mengungkap bahwa Munir yang diduga sakit, ternyata tewas dengan cara diracun.

Nilai Nasionalisme
Adalah suatu sikap politik dari masyarakat suatu bangsa yang mempunyai kesamaan kebudayaan dan wilayah serta kesamaan cita-cita dan tujuan, dengan demikian masyarakat suatu bangsa tersebut merasakan adanya kesetiaan yang mendalam terhadap bangsa itu sendiri. Dalam berita ini kami mendapat sudut pandang baru bahwa jiwa nasionalisme tidak se-konvensional zaman dahulu yang beranggapan nasionalisme saat kita mengangkat senjata dan berperang di lapangan saja, namun di era milenials ini kita dapat membuktikan nasionalisme kita dengan hal-hal sederhana seperti belajar dan memberikan pemahaman kepada generasi baru.

Hindari Perpecahan Bangsa, Anak Perlu Dibekali Jiwa Nasionalisme

Senin, 14 November 2016 - 15:41 WIBMenanamkan jiwa nasionalisme kepada anak-anak. Foto/Dok/Kemensos.


JAKARTA - Konteks berperang sekarang tidak lagi mengangkat senjata melawan penjajah. Namun berperang untuk mengatasi berbagai masalah bangsa, seperti kemiskinan, pengangguran, keterlantaran, ketunaan sosial, korban bencana, dan berbagai masalah sosial lainnya.

Dirjen Pemberdayaan Sosial Kementrian Sosial (Kemensos) Hartono Laras mengatakan, setiap anak harus memiliki semangat dan nilai-nilai kepahlawanan. Semangat itu, kata dia harus diimplementasikan dan didayagunakan untuk hal tersebut.

"Ke depan penyelesaian segala persoalan bangsa tentunya ditangan dan dipundak anak-anak kita, maka kita harus bisa membekali mereka dengan semangat nasionalisme yang tinggi agar bisa kuat dalam menyelesaikan berbagai persoalan di atas," ujar Hartono, Jakarta, Senin (14/11/2016).

Dia juga mengajak generasi muda untuk menanamkan jiwa kepahlawanan sejak dini melalui program Pahlawan Goes to School. Harapannya, bangsa ini kuat menghadapi berbagai upaya perpecahan dari pihak tertentu.

"Kita harus tanamkan jiwa kebangsaan yang kuat dan semangat kepahlawanan kepada anak-anak di Indonesia agar kelak mereka memimpin bangsa ini tidak dengan mudah dipecah belah melalui kemajuan teknologi," ucapnya.

Dia juga berharap semangat dan komitmen para pejuang, pendiri bangsa, serta para pahlawan untuk mempersatukan bangsa Indonesia terus ditindaklanjuti secara nyata.
Makna pahlawan dalam konteks kekinian, terang dia adalah orang yang konsisten memperjuangkan sesuatu untuk perubahan ke arah positif.

"Jangan sampai pengorbanan para pahlawan menjadi sia-sia karena sikap apatis kita terhadap nasib bangsa ini," terangnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Logika

Biografi John Locke